Rabu, 29 Juli 2009

WAKTU KITA BUKANLAH WAKTU TUHAN

Kisah 3 pohon

Memang benar kita semua punya mimpi-mimpi yang hancur dan Allah tetap berdiri di atas mimpi-mimpi kita yang hancur itu, karena Dia memiliki mimpi yang lebih baik, lebih tinggi, lebih agung bagi kita...

Alkisah, ada tiga pohon di dalam hutan. Suatu hari, ketiganya saling menceritakan mengenai harapan dan impian mereka. Pohon pertama berkata: "Kelak aku ingin menjadi peti harta karun. Aku akan diisi emas, perak dan berbagai batu permata dan semua
orang akan mengagumi keindahannya" ..

Kemudian pohon kedua berkata: "Suatu hari kelak aku akan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan mengangkut raja-raja dan berlayar ke ujung dunia. Aku akan menjadi kapal yang kuat dan setiap orang merasa aman berada dekat denganku".

Lalu giliran pohon ketiga yang menyampaikan impiannya: "Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi di hutan di puncak bukit. Orang-orang akan memandangku dan berpikir betapa aku begitu dekat untuk menggapai surga dan TUHAN. Aku akan menjadi pohon terbesar sepanjang masa dan orang-orang akan mengingatku".

Setelah beberapa tahun berdoa agar impian terkabul, sekelompok penebang pohon datang dan menebang ketiga pohon itu...

Pohon pertama dibawa ke tukang kayu. Ia sangat senang sebab ia tahu bahwa ia akan dibuat menjadi peti harta karun. Tetapi doanya tidak menjadi kenyataan karena tukang kayu membuatnya menjadi kotak tempat menaruh makanan ternak. Ia hanya diletakkan di kandang dan setiap hari diisi dengan jerami.

Pohon kedua dibawa ke galangan kapal. Ia berpikir bahwa doanya menjadi kenyataan. Tetapi... ia dipotong-potong dan dibuat menjadi sebuah perahu nelayan yang sangat kecil. Impiannya menjadi kapal besar untuk mengangkut raja-raja telah berakhir.

Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan kayu besar dan dibiarkan teronggok dalam gelap. Tahun demi tahun berganti..., dan ketiga pohon itu telah melupakan impiannya masing-masing.

Kemudian suatu hari...
Sepasang suami istri tiba di kandang. Sang istri melahirkan dan meletakkan bayinya di kotak tempat makanan ternak yang dibuat dari pohon pertama. Orang-orang datang dan menyembah bayi itu. Akhirnya pohon pertama sadar bahwa di dalamnya telah diletakkan harta terbesar sepanjang masa.
Bertahun-tahun kemudian...
Sekelompok laki-laki naik ke atas perahu nelayan yang dibuat dari pohon kedua. Di tengah danau, badai besar datang dan pohon kedua berfikir bahwa ia tidak cukup kuat untuk melindungi orang-orang di dalamnya. Tetapi salah seorang laki-laki itu berdiri dan berkata kepada badai: "Diam!!!" Tenanglah". Dan badai itupun berhenti. Ketika itu tahulah bahwa ia telah mengangkut Raja diatas segala raja.
Akhirnya...
Seseorang datang dan mengambil pohon ketiga. Ia dipikul sepanjang jalan sementara orang-orang mengejek lelaki yang memikulnya. Laki-laki itu kemudian dipakukan di kayu ini dan mati di puncak bukit. Akhirnya pohon ketiga sadar bahwa ia demikian dekat
dengan TUHAN, karena YESUSlah yang disalibkan padanya...

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu,
dan janganlah bersandar
kepada pengertianmu sendiri" (Ams. 3:5) "

KETIKA KEADAAN TIDAK SEPERTI YANG ENGKAU INGINKAN,
KETAHUILAH BAHWA TUHAN MEMILIKI RENCANA UNTUKMU.
JIKA ENGKAU PERCAYA PADA-NYA
IA AKAN MEMBERIMU BERKAT-BERKAT BESAR.
KETIGA POHON MENDAPATKAN APA YANG MEREKA INGINKAN,
TETAPI TIDAK DENGAN CARA YANG SEPERTI MEREKA BAYANGKAN.
BEGITU JUGA DENGAN KITA, KITA TIDAK SELALU TAHU APA
RENCANA TUHAN BAGI KITA.
KITA HANYA TAHU BAHWA JALAN-NYA BUKANLAH JALAN KITA,
TETAPI JALAN-NYA ADALAH
YANG TERBAIK BAGI KITA, SELAMANYA...

Jumat, 19 Juni 2009

Mengapa kita tidak bisa menikmati sesuatu yang indah

Lukas 23 : 13 - 27

Dalam bagian Firman Tuhan ini saya coba angkat sebuah tema untuk bahan renungan kita dalam mengarungi kehidupan ini yaitu “Tuhan Dekat Dengan Kita, Namun Kita Tidak Dapat Menikmatinya/Merasakannya”.

Dari tema ini timbul pertanyaan dalam hati; “Mengapa Hal Demikian Bisa Terjadi ?”

1. Karna kita tidak Taat Luk. 24 : 13 yang berbunyi demikian ” Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem”.
Padahal ada larangan dari Tuhan agar mereka tetap tinggal di Yerusalem sampai digenapi firmanNya yaitu mencurahkan Roh Kudus, karena setelah Dia (Tuhan) mati, dan Bangkit akan naik ke Surga dan akan menurunkan Roh Kudus sebagai Penggantinya, namun kedua murid ini pergi ke Emaus yang cukup jauh dari Yerusalem dan hari-hari itulah yang disebut hari Penantian dan akhirnya menjadi hari Pentakosta (hari Roh Kudus). Jadi walaupun Yesus sudah begitu dekat dengan mereka berdua akan tetapi mereka tidak bisa merasakannya juga tidak mengetahuinya padahal mereka sudah begitu lama bersama dengan Dia dan baru tiga hari mereka berpisah dengan Tuhan langsung tidak bisa mengenal dan merasakan keberadaan Tuhan; Kis 1 : 4 - 5 “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang demikian kata-Nya "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”. Melihat dari bagian firman Tuhan ini jelas murid-muridnya sudah melanggar perintah Tuhan yang berarti “DOSA” dan itulah yang menutupi pandangan, perasaan mereka hingga mereka tidak mengetahui juga tidak merasakan keberadaan Tuhan dekat mereka.

2. Karena kita menyimpan Dendam dalam hati Luk 24 : 17 – 20 yang berbunyi demikian “Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi. Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya”.
Kalau kita menyingkapi ayat ini jelas kita lihat “Dengan Muka Muram” berarti masih ada rasa sedih dan kalau kita lanjutkan pada ayat (kalimat terakhir) terakhir dimana mereka dengan jelas ada perasaan jengkel dan sakit hati “Imam kepada dan pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk di hokum mati” yang berarti mereka masih menyimpan dendam padahal dalam “DOA” yang diajarkan oleh Yesus sendiri “Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang bersalah kepada kami” yang berarti kita harus lebih dahulu mengampuni kesalahan orang lain biar Tuhan berkenaan mengampuni segala salah dan dosa kita. Firman Tuhan juga menyarankan dan bahkan memerintahkan kita biar kiranya amarah harus hilang dari hati dan pikiran kita sebelum matahari terbenam Efesus 4 : 26 “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu”. Padahal dalam ayat diatas sudah sampai 3 (tiga) hari amarah, dendam, sakit hati dari murid Tuhan Yesus ini masih membara yang berarti telah berbuat “DOSA” yang menjadikan penghalang pandangan dan perasaan mereka akan keberadaan Tuhan di dekat mereka.


3. Karena kita Kurang Percaya dan bahkan Tidak Percaya Luk 24 : 21, 25 – 27 yang berbunyi demikian “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi”.

Apapun yang kita lakukan atau yang kita kerjakan tidak akan berhasil atau menghasilkan suatu hasil yang memuaskan apabila kita melakukannya dengan setengah hati atu bisa dibilang kurang percaya. Bila kita bekerja dalam suatu perusahaan namun kita tidak percaya bahwa kita akan mendapatkan akan apa yang kita cari/butuhkan sebaiknya kita secepat mungkin keluar/pindah dari perusahaan tersebut karena pada akhirnya semua yang kita lakukan akan terasa sia-sia dan berakibat sakit hati.
Namun apabila kita bekerja dengan kepercayaan penuh bahwa segala apa yang kita butuhkan.harapkan bisa kita capai di tempat tersebut maka kita akan melakukan segala sesuatu itu dengan semangat dan menghasilkan ssesuatu hal yang Sangay menggembirakan kita, dan mungkin akan jauh dari apa yang kita bayangkan sebelumnya, karena kita melakukan segala sesuatu itu dengan sekuat tenaga dan tanpa ada sungut-sungut sehingga Tuhan juga ikut bekerja pada diri kita dan pada diri orang yang selalu memperhatikan kita.

Oleh karena itu bila mana kita ingin merasakan segala sesuatu itu “INDAH SELALU” baiknya kita ;
1. Taat untuk segala aturan yang berlaku
2. Jangan ada sakit hati dan atau dendam dalam diri kita
3. Melakukannya dengan penuh semangat dan kepercayaan tinggi.

Tuhan Memberkati kita semua

Selasa, 26 Mei 2009

Utamakan Kepentingan Orang Banyak

“Jika mau aman, maka lebih baik diam dan tidak perlu macam-macam”, kalimat ini sering muncul dari mereka yang ingin posisi dan jabatannya tetap aman dan nyaman. Betapa tidak jarang kita menemukan orang-orang yang sudah tahu apakah itu kebenaran dan keadilan, namun ia rela tutup sebelah mata terhadap ketidak-adilan. . Hal ini terjadi semata-mata hanya karena ia mau mencari aman. Apabila ia bersikap arogan dan menantang maka kemungkinan besar akan kehilangan teman dan sahabat, bahkan para pendukung dan posisinya bisa terancam.

Demi untuk kepentingan yang sama, maka tidak jarang yang bermusuhanpun dapat menjadi sahabat. “Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan” (Lukas 23 :12) Kondisi semacam ini yang sedang dihadapi oleh seorang tokoh Alkitab yang bernama Pilatus. Tatkala Yesus dibawa kehadapan persidangannya, sebenarnya ia tahu jelas siapa Yesus itu, Ia juga tahu kalau Yesus itu tidak bersalah. Coba lihat Lukas 23:4 Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini." Lukas 23:14 dan berkata kepada mereka: "Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya”..

Memang pada awal nampaknya ada niat baik dari Pilatus berusaha membebaskan Yesus dengan dalih tradisi disetiap perayaan Paskah, ia boleh membebaskan seorang penjahat. Oleh sebab itu Pilatus menawarkan dua orang narapidana yang kontras, yakni seorang penjahat besar Barabas dan Yesus. Dalam pikiran Pilatus ada harapan besar jika masyarakat memilih Yesus ketimbang Barabas dengan mempertimbangkan kejahatan yang telah diperbuatnya. Lukas 23:20 “Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus”. Lukas 23:22 Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: "Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya. "

Namun kenyataan yang terjadi justru mereka memilih membebaskan Barabas sang perampok besar itu dan menyalibkan Yesus. Mengapa hal ini terjadi? Salah satu fakta kebenaran yang dapat kita lihat adalah bahwa ada ketakutan dalam diri Pilatus terhadap suara mayoritas. Jabatannya dapat dicopot atau juga nyawanya terancam apabila ia membela minoritas. Pilatus sendiri yang mengatakan bahwa sebenarnya ia berhak membebaskan atau menghukum Yesus, namun tatkala ia berada pada kondisi ini justru ia menyerahkan kepada orang banyak untuk mengambil keputusan. Kisah 13:28 Dan meskipun mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati itu, namun mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh. Kepentingan pribadi Pilatus makin terlihat tatkala ia melimpahkan tanggung jawabnya kepada ornag lain. Matius 27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"

Sangat disayangkan, di mana-mana hingga hari ini sang minoritas selalu tidak terhitung dan diremehkan. Seorang pencuri ayam dapat divonis bertahun-tahun, sementara para koruptor tetap menghirup udara segar, bahkan boleh berpesta-pesta di hotel berbintang. Semua ini terjadi karena ada pihak-pihak tertertu sedang berusaha meraih kepentingan pribadi. Rupanya tradisi tidak pernah luntur, sebab yang berhubungan dengan kepentingan pribadi itu sering diutamakan manusia. Hingga hari ini, mulai dari golongan bawah hingga golongan atas bahkan para pejabat gereja tidak pernah terlepas dari yang disebut kepentingan pribadi. Tidak jarang kita menemukan rapat pengurus/majelis bahkan pendeta diakhiri dengan pertengkaran hanya karena kepentingan pribadi. Posisi pribadi lebih penting ketimbang memikirkan orang lain.

Memang benar ada orang yang mencoba berargumentasi dengan pemikiran bahwa, kepentingan sendiri saja belum terpenuhi jangan memikirkan kepentingan orang lain? Pemikiran seperti ini tidak salah seratus persen, tetapi penerapannya harus pada konteksnya. Misalnya jika saya belum makan, bagaimana mungkin memberi makan pada orang lain? Namun bukankah saya dapat memberi setengah dari makananku kepada ornag lain. Inilah konsep pengajaran Tuhan Yesus. Ia bahkan rela mengorbankan diriNya demi kepentingan umat manusia bukan setengah dari hidupNya yang Dia korbankan akan tetapi semua hidupNya Dia relakan hingga ke kayu salib untuk menyelamatkan kita umat ketebusanNya.

Kepentingan pribadi, produk lama yang tidak pernah usang. Tanpa disadari, kita juga sering terjebak di dalam kepentingan pribadi ini bukan? Tatkala anda menyetir mobil, sementara kemacetan terjadi. Kalau di Jakarta kita sudah biasa melihat pemandangan berduyun-duyun mobil menumpuk macet di persimpangan lampu merah. Semua orang harus duluan, akhirnya macet total. Bagaimana pula dengan orang-orang yang berdesakan di dalam bus? Relakah kita menyerahkan tempat duduk kita yang nyaman pada orang lain? Bagaimana pula dengan ketidak-adilan yang anda lihat dengan mata kepala sendiri di kantor? Bukanklah demi keamanan lebih baik jangan mencampuri urusan orang lain? Bagaimana dengan penyaluran dana kepada mereka yang terkena bencana alam? Sering penyalurannya tidak lancar juga karena ada oknum yang sedang bermain-main dengan kepentingan pribadi?

Kondisi begini juga tidak jarang muncul di gereja. Demi kepentingan pribadi ada artis yang gara-gara pernikahannya rela meninggalkan Kristus, padahal konon cerita ia pernah melayani sebagai penginjil. Pernahkah anda mengecek bagaimana kehidupan dan karakter para majelis di dalam usaha dagang mereka? Kadang demi kepentingan pribadi para pejabat gereja tertentu, maka para koruptorpun dibiarkan mengerjakan pelayanan dengan posisi yang aman. Mereka ibarat Robinhood masa kini, merampok di sana , mengerjakan dan mendukung kegiatan rohani di sini. Jika kepentingan pribadi didahulukan, maka hal ini membahayakan; sebab bisa timbul oknum yang mau mencari kepentingan dan keuntungan untuk diri sendiri.

Mari kita syukuri, dalam rangka mengenang kesengsaraan Tuhan Yesus ini kita diingatkan kembali betapa jahat dan bejat bila kepentingan pribadi selalu diutamakan. Apalagi karena demi kepentingan pribadi orang lain yang dikorbankan. Tuhan Yesuslah satu-satunya teladan yang rela mengorbankan kepentingan pribadiNya untuk kepentingan orang lain. Ia rela terpaku di atas kayu salib dan mati demi orang lain. Dan orang lain itu tidak lain dan tidak bukan, anda dan saya. Masihkah kita mempertahankan kepentingan pribadi itu?

Kamis, 21 Mei 2009

Haus Akan Mujizat ..... Lanjutan

Apakah kalau Pendeta/Pastor tidak mampu melakukan Mukjizat berarti mereka itu hamba yang dunguk bin goblok dan tidak terurapi ? Tidak. Apabila kita belum mampu untuk melakukan mukjizat, bukan berarti bahwa kita tidak sanggup melakukan amanat agung, mewartakan kabar gembira, memberitakan injil. Saya yakin dari segi kaliber maupun kelas, jarang ada Pendeta/Pastor yang mampu menandingi Yohanes Pembaptis.

Selama masa hidupnya hingga meninggal Yohanes tidak pernah satu kalipun melakukan mukjizat. (Yohanes 10:41) Dari segi penampilan maupun pakaiannya pun kalah jauh dari para selebritis yang selalu tampil dengan setelan jas putih walaupun sama buatan BOS. Tetapi pakaian Yohanes hanya dari Bulu Onta Saja.

Untuk memberitakan injil kita tidak dituntut untuk mampu membuat KKR, mampu menghidupkan orang mati, mampu menyembuhkan orang sakit, mampu melakukan berbagai mukjizat dan sebagainya, tapi cukup lewat kesaksian kecil mewartakan Tuhan Yesus.

Namun dengan ini saya ingatkan kepada kita Amat KetebusanNya agar tidak tersesat dengan segala mujizat-mujizat yang terjadi saat ini, karena hal ini juga sudah dituliskan dalam firman Tuhan di Matius 24 : 24 “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”. Jadi tidak semua mujizat yang terjadi benar-benar berasal dari Tuhan …. Untuk hal ini kita harus benar-benar hati-hati.

Memperkenalkan siapa Tuhan Yesus kepada saudara-saudara kita bisa dengan cara memberitahuan kepada mereka tentang; "apa yang kita alami ketika kita berjalan bersama dengan Yesus". Ini semuanya bisa kita angkat dalam serangkaian kata maupun tulisan sebagai kesaksian kita. Belajarlah dari Yohanes untuk mewartakan apa yang ia lihat, ia alami dan ia saksikan, sehingga kita pun mulai dari sekarang bisa menjadi murid Yesus sesungguhnya, walaupun tanpa harus dibumbui dengan adanya kemampuan mukjizat sekalipun.

1 Korintus 1:22-23
Orang-orang Yahudi menghendaki tanda (mukjizat) dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan.

Rabu, 20 Mei 2009

Haus Akan Mujizat ..... Kudu Hati-Hati

Banyak Pendeta/Pastor sekarang ini jadi merasa minder berat, bahkan merasa tidak Pe-De. Masalahnya mereka tidak mampu melakukan mukzijat seperti David Copperfield. Pada kehidupan modern yang serba canggih sekarang ini, Hamba Tuhan hanya baru dapat diakui dan dihargai oleh umat, apabila ia mampu menciptakan mukzijat. Tanpa adanya kemampuan ini, mereka akan dinilai sebagai Pendeta/Pastor Kelas Dua baca Dunguk! Lihat saja hampir tidak ada Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) tanpa adanya Show Mukjizat. Masa Pendeta/Pastor kalah sama dukun cilik Ponari, malu donk kawan!

Tidak bisa dipungkiri pula, bahwa kebanyakan Pendeta/Pastor dari segi kesaktian masih kalah jauh, karena mereka tidak mampu melakukan mukjizat. Beda dengan para hamba Tuhan yg setiap saat bisa melakukan mukjizat dengan motto: Kapan saja, dimana saja, Yes We Can!

Saya yakin banyak Hamba Tuhan dari segi jumlah Quantity mukjizat yang telah dilakukan oleh mereka; ada jauh lebih banyak daripada apa yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Mereka bukan hanya sekedar mampu menyembuhkan orang buta maupun lumpuh, tetapi juga membangkitkan orang mati. Apakah tidak hebat ?

Maka dari itu daripada mahal-mahal mengundang David Copperfield, lebih baik mengundang Hamba Tuhan yang mampu melakukan mukjizat. Bisa dipastikan, bahwa semakin hebat pertunjukan show mukjizatnya, semakin besar pula uang kolekte yang akan masuk. Maklum kebanyakan gereja sekarang ini telah beralih fungsi menjadi showbiz.

Gereja tanpa adanya pertunjukan/hiburan akan terasa hambar dan membosankan, seperti halnya kebanyakan gereja Protestan/Katolik yang miskin akan mukjizat maupun hiburan. Sudah mulai banyak dari mereka menilai jika tidak ada mukjizat terjadi, berarti Tuhan tidak hadir dalam kebaktian itu alias tidak berada ditempat, sedang cuek, sedang istirahat atau sedang cuti weekend.

Kekecewaan umat yang tidak dapat melihat Show Mukjizat telah dirasakan sendiri oleh Tuhan Yesus, pada saat Ia pulang mudik ke kampungnya di Nazareth. Disitu Ia sudah berkhotbah dengan kata-kata yang indah, sehingga para pendengarnya terpukau, tetapi ternyata ini tidak cukup. No Wonder - No Fun, maka dari itu Ia diusir bahkan sampai mau dilempar dari tebing. (Lukas 4:29 “Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu”). Kalau kita jujur umat sekarang ini juga tidak beda jauh dengan para penduduk di Nazareth.

Betapa kecilnya iman kita apabila kita hanya bisa percaya dan menerima Tuhan lewat mukjizat semata? Apakah disetiap kebaktian harus menjadi ibadah penyembuhan? Tidak! Baca tuh Alkitab disitu tercantum dengan jelas "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga AKU MEMBERITAKAN INJIL, karena UNTUK ITULAH AKU TELAH DATANG" (Mark.1:38) dan apakah kita harus menjadi sama dengan Thomas seperti yang terdapat pada Yoh. 20 : 25 “Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percata”. Janganlah kiranya kita harus mendapatkan jawaban serupa dari Yesus seperti jawaban yang diterima oleh Thomas seperti yang terdapat dalam Yoh. 20 : 29A “Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya". Namun kiranya kita bisa dan mau percaya dengan mendengar dan atau membaca firman Tuhan seperti kata Tuhan Yesus dalam frimanNya pada Yoh 20 : 29B “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
======Tuhan Yesus Memberkati ========

Selasa, 19 Mei 2009

Kasihilah seorang akan yang lain


Kasih adalah sesuatu yang mempunyai nilai paling tinggi dalam segala hal karena kasih bisa ada kalau ada Roh Tuhan dalam hidupnya seperti tertulis dalam Gal. 5: 22 – 23 “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”, hal ini juga bisa saya katakan karena dalam berbagai masalah semuanya tidak akan terasa apabila orang-orang disekeliling kita penuh dengan kasih dan mengasihi kita. Dan kalau benar-benar kasih ini bekerja dengan tulus dalam hati kita masing-masing tidaklah menuntut imbal balik. Akan tetapi jauh lebih tinggi lagi kalau kasih yang kita berikan itu dibalaskan lagi dengan kasih dan hal ini juga yang diinginkan dalam ayat Firman Tuhan yang ada dalam Yoh. 15 : 9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu”.

Dalam lingkup pekerjaan kita, pimpinan kita pasti sangat menyayangi kita, mangasihi kita apabila kita juga mengasihi pimpinan kita. Mengasihi disini tidak sama kedudukannya antara pimpinan kita mengasihi kita dengan kita mengasihi pimpinan kita, dimana kalau pimpinan kita mengasihi kita bisa dengan memperhatikan apa yang kita kerjakan hingga memperhatikan akan masa depan kita dalam jenjang karir dalam lingkungan kerjaan kita, namun kita mengasihi pimpinan tidak demikian namun dengan mematuhi perintahnya, mengerjakan apa yang diperintahkan untuk kita kerjakan. Apabila kita bisa mencukupkan apa yang dia (pimpinan) mintakan kepada kita (sehubungan dengan pekerjaan) pasti pimpinan kita juga sangat senang kepada kita, dan akan selalu memperjuangkan segala yang berhubungan dengan kita. Hal seperti inilah mungkin yang bisa kita lihat dalam gambaran dari Firman Tuhan yang tertulis pada Yoh: 15:10 “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya”.

Akan tetapi jauh lebih indah kasih itu kalau kita lakukan tanpa pamrih, karena kalau yang mengasihi kita baru kita kasihi, semua orang yang tidak kenal Tuhan pun melakukan hal itu dan bisa dibilang itu adalah sifat duniawi, namun Tuhan menginginkan hal jauh lebih dari itu seperti halnya yang tertulis dalam Matius 5:44 - 48” Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.". Jadi jauh lebih indah dan lebih baik apabila kita bisa mengasihi semua orang, baik itu yang mengasihi kita apalagi orang-orang mamusuhi/memyakiti kita karena hal demikian yang susah dan tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai kasih didalam Tuhan. Karena hal ini sudah lebih dahulu diteladankan oleh Tuhan dalam hal mengasihi, Tuhan datang ke dunia ini bukan hanya untuk orang yang mengenal dan atau yang mengasihi Dia, namun Tuhan datang ke dunia ini untuk semua orang apalagi untuk orang yang berdosa hal ini bisa kita lihat dalam ayat Firman Tuhan Lukas 19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Jadi Tuhan rela menjelma menjadi manusia turun dari tahta Kedudusannya hingga rela disiksa, dihina dan bahkan mati di Kayu Salib semuanya itu dilakukan bukan untuk orang yang benar, bukan untuk orang yang mengasihi Dia, namun paling utama adalah untuk menyelamatkan orang-orang yang hilang, orang-orang yang berdosa.

Kalau kita kembali berbicara dalam hal pekerjaan pasti ada jarak antara pimpinan dengan bawahannya (anak buah), namun kasih yang diberikan antara satu dengan lain oleh pimpinan kepada bawahannya (anak buahnya) bisa berbeda-beda berdasarkan kasih dari masing-masing dari mereka. Kalau pimpinan menilai bawahannya itu sangat mengasihi dia, menyayangi dia, maka sang pimpinan tidak akan sungkan-sungkan mencurahkan atau menceritakan segala unek-unek yang ada dalam hatinya kepada orang yang bisa dipercayakan itu. Karena apabila bawahan sangat menyayangi sang pimpinannya pasti tidak akan pernah dipermalukan, tidak akan pernah menyakiti perasaannya dan bisa menyimpan rahasia sang pimpinannya itu, maka pimpinan itu juga pasti tidak menganggap dia lagi hanya sebagai bawahannya atau hanya sebagai anak buahnya, namun sang pimpinan telah mengubah keberadaan dia menjadi sahabatnya, hal seperti inilah yang bisa kita lihat dalam gambaran Firman Tuhan yang tertulis dalan Yoh 15:15 “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”
Akan tetapi banyak anak buah atau bawahan yang berusaha untuk mendapatkan perhatian lebih dari atasannya/pimpinannya namun dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan hingga dia merasa sakit hati yang mengakibatkan dia melakukan hal yang menyakitkan hati dari sang pimpinannya dan dia tidak sadar bahwa tidak semua kita dapatkan akan apa yang kita harapkan namun kita harus sadar bahwa segala sesuatunya Tuhanlah yang mengaturnya hal ini bisa kita lihat pada Firman Tuhan yang tertulis dalah Yoh. 15 : 16A “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”. Namun yang perlu kita sadari bahwa segala sesuatu itu indah pada waktunya dan waktu kita bukan waktu Tuhan dan kehendak kita bukan kehendak Tuhan dan juga, hal ini bisa kita lihat dalam Firman Tuhan yang tertulis pada Pengkhotbah 3 : 11 “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”.

Jadi dari penjelasan-penjelasan diatas yang perlu kita simak dan kita perhatikan adalah :

1. Kita harus bisa mengasihi semua orang (yang mengasihi dan yang membenci kita) dengan sepenuh hati.
2. Dalam hal kita mengasihi baiknya kita melakukannya dengan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan yang setimpal dengan apa yang kita lakukan karena apabila kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan sangatlah menyakitkan.
3. Dalam melakukan segala kebaikan jangan membatasi waktu namun marilah kita lakukan selama umur kita, karena bukan kita yang menentukan namun Tuhanlah yang menentukannya.
====== AMIN ======

Senin, 11 Mei 2009

Gratis Itu Tidak Selamanya Murah

GRATIS TETAPI TIDAK MURAH!


Anugerah yang Murah?

Seseorang sangat mungkin untuk salah dalam memberikan makna pada sesuatu, misalnya menempatkan makna yang sangat tinggi kepada sesuatu yang kurang bernilai dan tidak penting, atau sebaliknya menganggap sesuatu yang sebetulnya penting dan bernilai sebagai sesuatu kurang bernilai dan kurang penting.

Evelyn Adams memenangkan lotre New Jersey dua kali berturut-turut pada tahun 1985 dan 1986 sejumlah $5,4 juta dan sebagian besar ludes di mesin jackpot Atlantic City . Ia pun kemudian harus hidup di Trailer Park. Adams berkata: “Saya harap saya punya kesempatan lagi.”

Mungkinkah Adams menganggap remeh uang sebesar 5,4 juta dolar Amerika karena ia mendapatkannya dengan mudah dua kali berturut-turut? Sikap dan pemikiran (mind set) seperti ini bisa terjadi pada orang Kristen dalam memahami aspek-aspek keselamatan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Banyak orang Kristen yang menganggap murah anugerah Allah dengan menjadi seorang Kristen namun menjauhi ibadah, tidak mau terlibat dalam pelayanan, tidak mau bertumbuh dan tetap mencintai dosa. Di sisi lain banyak orang Kristen yang merasa pasti masuk surga dan setiap mengaku dosa pasti diampuni oleh Tuhan (1Yoh. 1:9) lantas dengan alasan itu tetap bermain-main dengan dosa dan tidak hidup dalam kekudusan.

Alkitab mengajarkan dan menegaskan bahwa keselamatan adalah pemberian cuma-cuma dan manusia tidak bisa menambah atau menyumbangkan apa pun sehingga keselamatan itu diberikan Allah kepadanya (Rm. 3:20). Namun karena cuma-cuma alias gratis (Ef. 2:8-9), keselamatan dan Kekristenan itu sering dipandang sebelah mata dan dianggap murah melalui sikap dan cara hidup orang Kristen yang tidak hidup dalam kekudusan. Mengapa demikian? Mungkin banyak orang Kristen yang melupakan kemutlakan sifat moral Allah, seperti diungkapkan T. C. Hammond (1938): “Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.”

Menghitung Harga Anugerah

Mengapa ada orang yang berpikir yang gratis itu pasti murah? Padahal yang gratis tidak selalu murah, tergantung nilai yang terkandung di dalamnya. Kata gratis mungkin dapat menjelaskan tindakan Allah menyelamatkan orang berdosa.

“Gratis” berasal dari kata latin “gratia” (for zero price, free of charge) atau dalam bahasa Inggris “grace” yang diterjemahkan dalam Alkitab sebagai anugerah atau kasih karunia (Ef. 2:8-9; Rm. 3:24). Secara penuh dan mutlak penebusan dosa telah dibayar lunas dalam kematian Kristus di kayu salib bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus (1Ptr. 1:18-19). Apakah penebusan itu murah, sehingga Allah mau memberikan keselamatan itu bagi orang-orang berdosa yang telah memberontak bahkan telah melakukan banyak kejahatan dan kekejian di hadapan-Nya? Strategi manajemen ‘six sigma’ menekankan beberapa prinsip antara lain: “You don’t know until you measure, you don't measure what you don't value, you don't value what you don't measure.” Dengan kata lain prinsip di atas menegaskan bahwa setiap orang Kristen harus melakukan perhitungan atau kalkulasi total atas tindakan yang dilakukan Allah atas keselamatan yang diberikan secara gratis kepadanya. Berapa harga anugerah Allah? Tergantung tindakan apa yang dilakukan oleh Allah untuk keselamatan tersebut. Surat Petrus mengatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1Ptr. 1:18-19).

Harga keselamatan tidak bisa diukur dengan uang atau dengan apa pun yang ada di dunia ini, harga itu tidak bisa dibayar dengan usaha apa pun yang dapat dilakukan oleh manusia karena terlalu mahal harganya (Mzm. 49:8-10), karena hanya bisa dibayar dengan darah Kristus sang domba Allah. Begitu mahal harga penebusan dosa manusia sehingga Allah harus menjadi manusia, harga yang tak terhingga bagi manusia. Mengapa Allah mau melakukannya? Tentunya karena kasih-Nya yang sangat besar (Yoh. 3:16), kitab Hosea juga menggambarkan betapa besarnya hasrat Allah untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang berdosa (Hos. 14:5), dan puncak dari semuanya itu adalah pengorbanan Kristus di kayu salib (Rm. 5:8). Kalau seseorang diselamatkan dan menjadi seorang Kristen itu berarti anugerah diberikan kepadanya, mengapa mendapat anugerah? Tentu tidak ada alasan pada manusia selain dari kasih Allah semata. Paulus mengatakan, “Karena anugerah Allah di dalam Kristus kita tidak binasa” (Rm.. 3:24; 6:23).

Free, but not cheap

Dietrich Bonhoeffer, theolog Jerman yang meraih gelar Ph.D. pada usia 21 tahun dari University of Berlin, sangat menggumuli fenomena di atas. Dari pengamatannya di Jerman maupun ketika di Amerika ia melihat banyak hal yang tidak wajar terjadi dalam Kekristenan. Ia melihat Kekristenan yang semakin sekuler dan mengakomodasi tuntutan sosial daripada menaati Kristus, sehingga anugerah menjadi property umum. Tahun 1937 ia menulis buku “The Cost of Discipleship,” yang mengulas tentang “anugerah yang murah atau anugerah yang mahal” (“cheap grace or costly grace”). Ia mengaskan “anugerah yang murah adalah musuh gereja yang mematikan, kita berjuang hari ini untuk anugerah yang mahal, anugerah yang mahal adalah inkarnasi Kristus dan kematian-Nya di kayu salib (Flp. 2:5-8). Baginya anugerah yang murah adalah mengkhotbahkan pengampunan tanpa tuntutan pertobatan, memberikan baptisan tanpa disiplin, melakukan perjamuan kudus tanpa pengampunan dosa. Anugerah yang murah adalah Kekristenan tanpa pemuridan, Kekristenan tanpa salib dan tanpa Kristus. Ia menegaskan bahwa tuntutan menjadi orang Kristen adalah menjadi murid Kristus berapa pun harganya (following Jesus at all costs), dan ia dieksekusi hukuman mati oleh Hitler karena memperjuangkan Kekristenan.

Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk. 9:23). Salah satu tuntutan dan kualitas tertinggi yang diharapkan Yesus dalam ayat tersebut pastilah berbicara tentang kekudusan dan hal ini ditegaskan dalam Ibrani 12:10: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Sinclair Ferguson (1985) dalam bukunya “A Heart for God,” mengatakan: “Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa–secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel .” Harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen “KTP” pasti murah sekali, namun Alkitab menegaskan: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1Yoh. 2:6).

Sejatinya yang gratis tidak berarti murah (free, but not cheap) dan gratis hanya berlaku bagi kita yang menerima penebusan tetapi harus dibayar oleh Kristus dengan pencurahan darah yang mahal di kayu salib. Haleluya!