Jumat, 24 April 2009

Kunci Sukses Untuk Menggapai Kesuksesan

KUNCI SUKSES DALAM MENGGAPAI KESUKSESAN

1. Mengandalkan Tuhan Disegala Hal

Saya sangat senang mendengar dan bahkan menyanyikan walaupun suaraku jauh bangat dari cukup untuk menyanyikan lagu yang berikut ini;

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
Dan tangan kasihNya menuntunku
Ditengah Gelombang dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teduh

Tiap langkahku kutau Tuhan yang pimpim
Ketempat tinggiku dihantarnya
Hingga sekali aku nanti tiba
Dirumah Bapa surga yang baka

Jadi kalau kita sudah tau bahwa tiap langkah kita sudah di atur dan bahkan di tuntun oleh Tuhan berarti kita sudah selayaknya dan sepatutnya mengandalkan Tuhan disegala gerak langkah kita, disegala tindak tanduk kita dan disegala pemikiran dan perkataan kita inilah yang menjadi kunci utama kita dalam mencapai segala ASA kita. Hal ini bisa kita lihat dalam Firman Tuhan yang tertulis pada Amsal 3 ayatnya yang ke 5 – 6 “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Sungguh indah Firman Tuhan ini karena kita tinggal berserah penuh kepada Nya maka jalan kita akan diluruskan".

2. Percukupkan Dengan Ilmu Pengetahuan

Memang diatas kita disuruh mengandalkan Tuhan sepenuhnya dan jalan kita akan diluruskan, namun Tuhan juga mengajarkan kepada kita dalam Amsal 19 ayatnya yang ke 2 “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah” . Disini Firman Tuhan mengharuskan kita untuk mencari ilmu pengetahuan karena kita tidak cukup dengan kerajinan belaka dengan mengandalkan Tuhan untuk menggapai segala cita-cita kita, karena Tuhan akan membukakan jalan kepada kita dengan sesuatu pekerjaan atau usaha untuk menggapai hal tersebut dan kalau kita tidak memiliki sesuatu ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan dan atau usaha kita bagaiman caranya kita melakukan sesuatu untuk menyelesaikan hal tersebut dengan baik dan benar. Hal ini juga dikuatkan dengan Firman Tuhan yang tertulis dalam Amsal 6 ayatnya “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak”.

3. Kita Harus Rajin Dan Cekatan

Seperti dikatakan dalam amsal 19 : 2 dimana kerajinan kita harus di dukung dengan ilmu pengetahuan yang berarti disamping kita sudah mengerti segala sesuatu dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita tidak boleh berpangku tangan karena sia-sia juga ilmu pengetahuan kita walaupun setinggi bintang dilangit tanpa mengaplikasikannya dengan kerajinan dan cekatan. Jadi kita harus dengan rajin untuk mengerjakan sesuatu untuk mencapai segala sesuatu sesuai dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Jangan kita malas dan jangan sekali-kali kita bertindak rajin karena keterpaksaan yaitu kita rajin kalau ada pemimpin kita akan tetapi kalau pimpinan kita tidak ada kita langsung malas-malasan hal ini juga di tegaskan dalam firman Tuhan yang tertulis dalam Amsal 6 ayatnya yang ke 7 – 8 ” biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen”.

4. Mengutamakan Kejujuran dan Kebenaran

Saat ini banyak orang hanya untuk mengejar sesuatu yang didambakan atau dicita-citakan harus mengorbankan harga diri, martabat dan bahkan harus meniadakan Tuhannya dengan berpindah ke tuhan yang lain. Karena seseorang ingin memiliki sesuatu barang yang mahal yang mungkin tidak dapat dia miliki dengan mengandalkan gajinya yang relative kecil maka dia menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya tersebut padahal hal tersebut sangatlah bertentangan dengan hal yang paling utama yang sudah kita jelaskan diatas “MENGANDALKAN TUHAN DISEGALA HAL” karena kalau kita berserah kepada Tuhan bukanlah kurang panjang tanganNya untuk mempercukupkan segala sesuatunya dan segala sesuatunya itu indah pada waktunya, hal ini bisa kita lihat pada Amsal 10 : 9 “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui. Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh" dan juga Amsal 16 : 8 – 9 “Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan. Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” dan juga pada Amsal 10 : 19 “Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa”.

5. Menjaga Mulut

Pernahkah mendengar cerita seorang pengembara yang terlalu banyak ngomong menyebabkan lehernya di pancung oleh seorang raja ? kisahnya begini “seorang pengembara sedang mengembara disebuah hutan dan tiba-tiba dia bertemu dengan satu tengkorak dan pengembara ini bertanya pada si tengkorak “bagaimana kamu dapat sampai disini” sitengkorak menjawab saya sampai disini karena mulut besar dank arena takjub dan heran sang pengembara pergi ke kota dan menceritakan hal tengkorak bisa ngomong kesemua orang yang dia temukan, dan hal itu sampailah ketelinga sang raja dan mungkin karena kesal dan tidak percaya hal tersebut sang raja meminta sipengembara menunjukkan tersebut kepada mereka dan tibalah mereka kepada si tengkorak tersebut dan pengembara mulai menanyai tengkorak dan tengkorak tidak mengeluarkan sepata katapun, sang raja marah besar karena merasa dipermainkan oleh pengembara dan akhirnya dipancungnyalah sipengembara itu” dan jadilah tengkoraknya disitu karena mulut besarnya. Demikian juga halnya dengan kita, bilamana kita mau mengeluarkan sebuah pendapat kita harus terlebih dahulu memikirkan untung dan rugi dari pendapat tersebut, jangan sampai pendapat atau omongan kita menjadi sebuah petaka dalam hidup kita, Hal ini bisa kita lihat dalam FirmanTuhan dalam Amsal 10 : 11 “Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman” dan juga pada ayatnya yang ke 19 – 20 ” Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya” dan juga dipertegas pada Amsal 21 : 23 yang berbunyi demikian ” Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran”. Jadi sangatlah jelas mulut kita bisa menjadi sebuah kesuksesan dan atau keberhasilan dalam hidup kita namun bisa menjadi sebuah maut juga, oleh karena itu pintar-pintarlah kita menggunakan mulut kita ini.

6. Kita Harus Bisa Bersabar dan Tenang

Sabar itu bukan berarti kita pasrah sepenuhnya, namun kita disini dituntut agar kita bisa tabah dan tidak gampang putus asa namun selalu berusaha apabila kita mengalami sesuatu kegagalan, karena ada kata-kata bijak yang pernah saya dengan “kegagalah saat ini adalah sebuah kesuksesan yang tertunda” jadi kalau ada sebuah kesuksesan yang masih tertunda dan kita tidak mempunyai sebuah kesabaran dan tidak mempunyai usa untuk mengulanginya dengan lebih baik lagi maka kegagalan itu menjadi benar-benar sebuah kegagalan dan tidak akan pernah ada keberhasilan di kemudian hari. Firman Tuhan pada kitab Amsal 14 : 29 berkata “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan” . Jadi bisa kita lihat SABAR itu sangatlah perlu untuk mengapai ASA yang sedang membara dan dengan kesabaran kita bisa menggapai sesuatu yang kita impikan seperti yang tertulis dalam Amsal 16 : 32 “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota”.

7. Jangan Ingin Cepat Kaya

Tuhan tidak pernah melarang anak-anakNya menjadi kaya, bahkan Tuhan kita yang kaya menyiapkan berkat yang melimpah-limpah untuk kita agar kita bisa hidup dalam kekayaan yang berasal dari Tuhan. Karena ingin cepat menjadi kaya sering menyebabkan orang jatuh pada dosa karena bisa pindah tuhan dari Tuhannya yang menjadi sumber berkat pindah kepada tuhan yang sebenarnya adalah sumber petaka, padahal sebenarnya sebelum manusia diciptakan oleh Tuhan segala sesuatu kebutuhannya sudah terlebih dahulu disediakan, namun yang perlu kita cermati adalah bahwa “waktu kita bukanlah waktu Tuhan dan waktu Tuhan bukanlah waktu kita” dan jangan sekali-kali kita memaksakan kehendak kita tapi biarlah kehendak Tuhan yang jadi dalam hidup kita. Kekeayaan yang telah dijanjikan oleh Tuhan untuk kita nikmati bisa kita lihat dalam FirmanNya yang tertulis dalam 10 : 22 “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya”. Juga mungkin pernah kita memperhatikan bila seseorang itu dengan gampang mendapatkan banyak harta pasti dengan cepat juga harta itu akan berkurang dan bahkan menjadi habis, karena hal ini sudah dinyatakan juga dalam Firman Tuhan dalam Amsal 13 : 11 “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya”.

Selamat mencoba, semoga kesuksesan menyertai kita dan kekayaan akan memenuhi kehidupan kita masing-masing yang hidup mengandalkan Tuhan.

Kamis, 23 April 2009

Jadilah Orang Tua Sahabat Anak

Orang-tua Sahabat Anak


Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah. (Amsal 27:6)


Pendidikan yang baik itu bukan hanya "membelai", tetapi juga "memukul" tentu saja dengan maksud baik, bukan menyiksa. Orang tua adalah sahabat bagi anaknya, setidaknya orang tua lebih tahu pahit manis kehidupan daripada si anak, lebih dahulu tahu, lebih berpengalaman, sehingga mereka perlu selalu menunjukkan apa yang baik dan apa yang buruk dan perlu dihindari supaya anaknya terhindarkan dari hal-hal yang tidak baik. Orang tua yang baik mempersiapkan anaknya menjadi orang bijak, Amsal 9:9 menulis "berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah".


Ketika anak kita lahir, ia adalah bagaikan kertas kosong yang siap diisi apa saja oleh orang tuanya, temannya, lingkungannya dan juga pendidiknya. Dan masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi proses perkembangan fisik dan mental si anak, orang-tua dalam hal ini berperan sebagai penjaga. Anak-anak adalah harta bagi orang-tuanya. Jagalah hartamu supaya mereka menjadi berguna dan senantiasa berkembang.

Kasih dan kepedulian seperti sahabat yang tak terpisahkan. Lawannya kasih itu bukan 'benci' atau 'jahat', lawannya kasih adalah 'tidak peduli' (bahasa Inggris, "apathy" berasal dari kata Yunani "a-pathos", harfiah : tanpa perasaan). Olehnya kita menggunakan istilah "apatis". Orang yang apatis adalah orang yang tidak peduli urusan orang lain, tidak peduli lingkungan dan apa yang terjadi di sekitarnya. Kadang kita bersikap "apatis", susahnya kalau kemudian sikap ini menjadi suatu penyakit yang menahun dan akut. Apakah kita kurang mempunyai waktu sehingga kita hilang kepedulian kita? Manusia membutuhkan komunikasi dan kerjasama diantara sesamanya. Manusia perlu saling mengisi, saling menegor, saling mengoreksi, saling memberi masukan untuk sesuatu yang baik. Seorang yang apatis mustahil ia akan sukses pada hari depannya. Jikalau kita adalah orang tua yang mempunyai anak-anak. Apa jadinya jikalau kita orang tua mempunyai sikap "apatis" kepada anak-anak kita? Kata "apatis" tidak selalu bermakna untuk sikap-sikap "ogah mengasuh/ melayani anak". Karena ada kalanya akibat cinta yang begitu dalam kepada anak, ada orang-tua tua menjadi lupa - tidak peduli - terhadap apapun yang dilakukan anaknya dan menganggap apapun yang dilakukan anaknya adalah benar. Atas nama cinta, mereka tidak menegor anaknya ketika si anak berbuat salah, pun juga merupakan sikap "apatis" (tidak peduli).


Pujian, belaian dan kasih-sayang adalah susu yang baik. Anak-anak kita tetap memerlukannya sampai ia besar. Gula-gula yang manis-manis (kata-kata yang manis) juga disukai anak-anak. Tetapi tidak selamanya hanya susu dan gula yang kita berikan, terlalu banyak gula tidak baik, terlalu banyak susu juga tidak baik. Pada saatnya mereka harus makan makanan keras (bergumul tentang sesuatu, berjuang), dan kata-kata pedas ataupun keras sering juga diperlukan sebagai kritik yang membangun.


Tidak ada orang sukses yang instant, tidak ada sukses kebetulan, semua ada persiapannya. Tidak ada produksi orang bijak yang instant, orang tua harus mempersiapkannya. Anak-anak muda bersalah itu biasa. Ketika anak berbuat salah, orang tua tidak perlu panik, marah yang berlebihan ataupun malu dan menutupinya, dan sebaiknya mereka senantiasa berkaca pada masa lalunya dulu, sehingga mereka dapat memberitahu apa yang sebaiknya dilakukan dan dihindarkan oleh si anak. Jika seorang muda itu sudah hebat dari sononya dan tidak pernah berbuat salah, tentu tidak perlu orang-tua menyekolahkannya. Toh kita mengirimkan anak-anak kita ke sekolah-sekolah terbaik. Artinya, membentuk anak/ generasi muda yang baik dan bijak itu suatu proses, bukan sesuatu yang instant.


Selamat mencetak generasi sukses.


Blessings in Christ,
Bagus Pramono
April 23, 2009

Selasa, 14 April 2009

Renungan Paskah

Jawa Pos, 10 April 2009

Renungan untuk Semangat Paskah

MENDEMONSTRASIKAN KASIH DENGAN PENGURBANAN


Hari Jumat, 10 April, umat Kristiani sedunia memperingati Wafatnya Tuhan Yesus yang dilanjutkan dengan Paskah sebagai momen kebangkitan dan kemenangan atas maut. Sehari sebelumnya, masyarakat Indonesia menjalankan pesta demokrasi pemilihan umum legislatif. Permenungan kritis atas interkoneksi momen politik dan religius ini patut dilakukan.
Paskah adalah wajah utuh sebuah servant leadership (kepemimpinan hamba). Dalam aroma anyir suksesi kepemimpinan nasional tahun ini, rasa-rasanya nada kepemimpinan yang melayani patut dilagukan kembali. Paskah adalah lonceng yang berbunyi memanggil manusia untuk merendahkan diri dan melayani orang lain.
Konsepsi servant leadership pernah diajarkan Yesus dalam adagium, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Markus 10:43-44).
Adagium ini diucapkan dalam konteks rivalitas di antara murid-murid Yesus sendiri, di mana 10 murid yang lain menjadi berang kepada dua murid bersaudara yakni Yohanes dan Yakobus yang lancang meminta jabatan. Namun demikian, kemarahan kesepuluh murid tersebut bukanlah didasarkan atas compassion terhadap kebenaran melainkan atas dasar ambisi despotisme dan rivalisme.
Hal ini mirip dengan kejadian di mana salah seorang anggota Cynic, sebuah mazhab filsafat Yunani yang menginjak-injak baju kuda Alexander Agung sambil berseru “calco fastum Alexandri” (sekarang saya menginjak harga diri Alexander), pada saat yang sama dijawab dengan seruan lain, “sed majori fastu” (tetapi dengan kesombonganmu yang lebih besar dari Alexander).
Antitesis Ambisi Despotisme
Konteks ini memberikan negasi kepada konsep kepemimpinan sejati bahwa servant leadership merupakan antitesis kepada ambisi despotisme. Ambisi jahat inilah yang sayangnya justru dipraktekkan oleh model kepemimpinan raja Herodes dan Wali Negeri Pilatus dalam Narasi Paskah.
Menjelang pemilihan legislatif, pertanyaan kritis-reflektif bagi para calon pemimpin adalah sesungguhnya motif apa yang melandasi akan “nafsu” para tokoh nasional untuk melaju dalam pertarungan kepemimpinan nasional. Jikalau motifnya adalah ambisi despotisme dan rivalisme maka tidak heran, roh kekejaman, roh Herodes-Pilatus akan terus “menghantui” para pemimpin, yang menyebabkan mereka dapat melakukan kekejaman kepada rakyat.
Kekejaman tersebut antara lain, pertama, suatu bentuk dehumanisasi melalui mereduksi rakyat sekedar sebagai komoditi politik guna menghantarkan kanditat ke kursi kepemimpinan, sementara kebutuhan dan penderitaan rakyat diabaikan. Kedua, hilangnya sense of crisis, antara lain dengan melakukan kebijakan mercusuar yang sesungguhnya tidak tepat guna dan tidak tepat nalar dalam pandangan publik, namun menguntukan pejabat belaka.
Ketiga, hilangnya sense of crisis menyebabkan jalur komunikasi politik yang buntu sehingga memaksa rakyat kerap menggunakan aksi ekstra-parlementer yang melelahkan dan bahkan berpotensi terjadi kekerasan fisik. Keempat, komersialisasi penderitaan rakyat, antara lain dengan komersialisasi korban bencana alam dan korban kemiskinan guna mendapatkan sumber daya finansial yang penggunaannya imun audit dan tidak mendarat pada kebutuhan rakyat banyak.
Vocation of the Servant
Sebaliknya, motif dari servant leadership adalah menjadi hamba, menjadi pelayan bagi semuanya. Teolog William Lane menyebutnya sebagai “vocation of the servant” (1974) yakni suatu model kepemimpinan yang menegaskan eksistensi diri “bukan untuk dilayani melainkan melayani” (Markus 10:45).
Kerelaan Yesus Kristus memikul salib di Golgota merupakan ekspresi servant leadership di dalam beberapa aspek. Terdepan, demonstrasi kasih terbesar. Salib merupakan penerjemahan motif kasih Allah kepada manusia berdosa (Yohanes 3:16). Servant leadership berlandaskan kasih sejati dan itulah yang dipraktekkan di Golgota. Di luar itu, terdapat nilai altruistik, rela menderita bagi umat-Nya. Salib dalam teologi Kristen merupakan kematian yang menggantikan (substitutional death) guna melepaskan umat-Nya dari dosa dan maut.
Akhirnya, salib adalah harga kebenaran (the price of truth) karena Yesus mempertahankan kebenaran menghadapi pengadilan tidak adil dan kedengkian dari perselingkuhan kotor pemimpin agama, politik dan hukum. Seorang pemimpin harus rela memperjuangkan kebenaran dengan harga yang mahal.
Ekspresi servant leadership dalam konteks kekinian terwujud dalam beberapa hal pertama demonstrasi kasih, dalam bentuk pengorbanan bukan manipulasi, eksploitasi dan reduksi eksistensi dan peran rakyat bagi kepentingan sempit sang penguasa. Demi kekuasaan, politisi menebar pesona di Situ Gintung tetapi tutup mata di Lumpur Lapindo.
Kedua, nilai altruistik berupa pembatasan fasilitas dan kemewahan diri. Ketiga, kepemimpinan hamba menuntut harga yang mahal bagi perjuangan kebenaran dan keadilan. Almarhum Munir telah melakukan itu: ia membayar harga mahal bagi kebenaran. Bagaimana dengan pemimpin dan calon pemimpin yang lain?

Selamat Paskah!

By. Antonius Steven Un

Senin, 13 April 2009

Selamat Paskah

Kristus datang bukan untuk meningkatkan penderitaan manusia, dan juga bukan datang untuk mengajarkan bagaimana caranya untuk menderita, tapi Kristus datang untuk memberi makna atas penderitaan.

Bagi orang-orang lain
Yang menolak undangan dan tawaran rahmat Allah oleh Kristus juga mengalami penderitaan, tapi mereka belajar bagaimana caranya menghindari penderitaan, mereka tidak memaknai apa arti penderitaan, sebab mereka tidak mempercayakan dirinya kepada kebenaran yang hanya dalam Kristus Yesus yang menderita untuk dosa-dosa manusia. Dan pada akhirnya juga mereka yang menolak rahmat Allah up Yesus Kristus akan mati binasa di kubur, tapi mereka mati untuk selama-lamanya sambil menanti di alam kubur ! Kita patut mewartaka kabar gembira ini supaya mereka juga boleh percaya dan mengubah pikirannya, sehingga mereka tidak lagi berpikir seperti manusia berpikir tetapi seperti Tuhan berpikir !

Tapi Yesus menderita, mati, bangkit dan hidup kembali, dan mengumumkan bahwa maut sudah berakhir dan sudah dikalahkan. Sebab jika Kristus sungguh tidak bangkit, maka sia-sialah pemberitaan injil, dan sia-sialah iman kita (1 kor 15:14).

Demikianlah iman kita dapat berdiri teguh, sebab iman kita tidak didasari oleh pengajaran orang yang mati, tetapi oleh Allah yang hidup, yakni Yesus Kristus, putera Allah yang menjelma menjadi manusia, menderita mati dan bangkit kembali untuk menguasai dosa dan maut dan hidup selama-lamanya!
Sebab kematiannya
Adalah kematian terhadap dosa-dosa manusia, satu kali mati dan untuk selama-lamanya, dan kehidupannya adalah kehidupan bagi Allah. Sebab upah dosa adalah maut; tetapi kasih karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Yesus berfirman :
"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. (yoh 11:25-26).

Paskah berlanjut :
Kristus akan datang kembali, ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan memandang dia, juga mereka yang telah menikam dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi dia. Amin. Datanglah ya Yesus untuk menyelesaikan kerajaanmu. Kami sungguh rindu akan kedatangan-mu, datanglah... Datanglah segera! Maranatha ! (why 1:7;22:20b)

Selamat paskah dan semoga sukacita paskah selalu beserta kita dan bertumbuh dalam iman yang menyala-nyala. Alleluia! Alleluia!
By, Eddy Tg (Metamorphe)

Senin, 06 April 2009

Hiduplah dengan Sabar dan Penuh Kasih

Sabar adalah sebuah kata yang seringkan kita katakan apabila seseorang atau sahabat dan bahkan saudara kita mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan hati. Dalam hal ini kita mengajak dan bahkan kita bisa bersifat memaksa agar dia yang sedang menalamin hal yang tidak mengenakkan tersebut tidak langsung putus asa, tidak menyalahkan orang lain dan bahkan bisa menyalahkan Tuhan. Kalau kita lihat dari banyaknya huruf dan gampangnya di lafalkan kata sabar ini sangatlah sederhana, namun kalau kita simak dari makna kata sabar ini sangatlah besar maknanya, karena hanya kata sabar bisa membuat orang merasa tenang dalam menghadapi sesuatu hal yang mungkin sangat menyakitkan, juga bisa membuat orang kuat dalam menghadapi pencobaan, seandainya seseorang yang sedang menalami sesuatu pencobaan tidak SABAR mungkin dia akan menyalahankan Tuhan yang bisa berakibat sangat fatal dalam kehidupannya dan bahkan kata sabar ini adalah suatu kata yang bisa menjadi modal dasar orang untuk menggapai suatu kesuksesan, karena tanpa kesabaran tidak ada kesuksesan sebab kesuksesan tidak pernah diraih dengan sesingkat mungkin tapi harus mengalami beberapa halangan dan rintangan dan tanpa.

Biasanya orang sabar juga adalah orang yang penuh dengan KASIH karena orang tanpa rasa kasih yang mendalam juga tidak bisa sabar dalam segala sesuatu. Bisa kita lihat dalam hal kecil seperti antrian sesuatu hal kalau orang tanpa ada rasa KASIH pasti langsung pengen paling duluan tanpa memikirkan orang lain dan tidak pernah dia punya rasa sabar untuk menunggu gilirannya. Biarpun seorang yang sudah tua yang ada di depannya apabila tidak ada KASIH dalam hidupnya pasti selalu bersamaan hilangnya rasa SABAR dan akan berusaha mendahulukan dirinya dari orang yang ada didepannya walaupun sebenarnya belum gilirannya. Jadi bisa kita lihat kasih itu tidak bisa kita lepaskan dari keSABARan. Kalau sudah tidak ada Kasih dan juga Sabar pastilah tidak adalagi murah hati dalam hidupnya, karena hanya dengan Kasih baru bisa kita berMURAH HATI yang begitu tulus. Mungkin kalau kita lihat baru-baru ini begitu terjadi musibah Situ Gintung banyak orang (Caleg/Partai) berlomban-lomba memberikan bantuan tapi tidak semuanya dengan tulus, tidak semuanya mereka yang memberikan itu kasih namun banyak dari mereka memberikan sesuatu itu dengan mengharapkan sesuatu juga sebagai imbal balik dari apa yang mereka korbankan tersebut. Namun apabila seseorang itu penuh dengan Kasih akan memberikan dengan tulus dan tanpa mengharapkan sesuatu sebagai imbal balik dari apa yang telah dia berikan karena KASIH ITU MURAH HATI

Orang-orang yang sombong, orang-orang yang angkuh selalu membanggakan segala sesuatu yang telah mereka lakukan, yang telah mereka perbuat, apa yang telah mereka korbankan selalu mereka koar-koarkan. Akan tetapi kalau orang yang penuh dengan Kasih segala sesuatu yang telah mereka lakukan, yang telah mereka perbuat dan atau segala sesutu yang telah mereka korbankan mereka tidak akan pernah publikasikan akan semunya itu dan bahkan mereka itu cenderung jangan sampai ada orang lain yang tau akan hal itu dan kalaupun orang lain tau mereka-mereka ini menginginkan biarlah orang yang telah merasakan, melihat, menikmati apa yang telah mereka perbuat yang mengwartakannya ke seluruh penjuru dunia. Karena ada prinsip dasar dalam hidup orang yang penuh kasih ”Apa yang telah diberikan oleh tangan kanan sebaiknya janganlah diketahui oleh tangan kiri”.

Bila seseorang kita katakan penuh dengan keSABARan, penuh dengan KASIH pasti orangnya tidak pemarah akan tetapi dianya adalah pemaaf yang berarti tidak akan pernah menyimpan kesalahan orang lain dan bisa kita katakan orangnya tidak akan pernah menjadi pendendam. Seandainya kita tidak menjadi orang yang SABAR dan tidak penuh dengan kasih pasti bila seseorang menyakiti kita pasti kita langsung membalaskannya dan apabila kita merasa belum sanggup membalaskannya pada saat itu juga pasti kita akan mencari cara dan jalan bagaimana caranya agar kita bisa membalaskannya yang berarti ada sesuatu perasaan dendam dalam diri kita. Berarti sangatlah besar manfaat dalam hidup kita bila kita bisa hidup dalam Kasih dan SABAR karena kita akan merasakan hidup yang jauh lebih tenang.

Hal ini bisa kita temukan dalam ayat Firman Tuhan yang tertulis dalam KITAB 1 Korintus 13 : 4 -7

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kamis, 19 Maret 2009

Mengapa Orang Lain Diberkati

Pernahkan kita memperhatikan satu keluarga yang begitu pelit, begitu susahnya berbagi dan membantu orang yang berkesusahan hidupnya semakin baik atau semakin kaya? Bukannya semakin kaya atau semakin baik namun malah hal sebaliknya yang terjadi, keluarga itu malah semakin menderita, semakin miskin dan bahkan semakin kesusahan dalam mempercukupkan apa yang mereka butuhakan, karena hal itu sudah jelas dikatakan dalam Firman Tuhan yang tertulis dalam Matius 6:27;
“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”
Namun apabila kita memperhatikan satu keluarga yang begit baik, begitu ramah dan bahkan begitu banyak menampung orang tinggal bersama-sama dalam rumahnya apakah keluarga itu menjadi melarat dan atau menjadi miskin ??
Saya pernah dan bahkan sering melihat rumah-rumah yang tadinya miskin, tadinya tidak memiliki makanan yang bisa dibilang berlebih dan bahkan dikatakan cukup juga tidak, namun bisa memberi tumpangan untuk tinggal bersama-sama dengan mereka dalam satu rumah sederhana, makan seadanya namum bukan semakin kekurangan, bukan semakin melarat akan tetapi malah kehidupan mereka semakin berkelimpahan.
Apabila kita berpikir secara matematika dan melihat dengan mata telanjang kita itu adalah sesuatu hal yang salah atau sesuatu hal yang mustahil karena apabila kita berpikir yang tadinya 3 piring nasi hanya cukup untuk 3 orang saja yang berarti setiap orang mendapat 1 piring nasi namun dengan bertambahnya orang dalam rumah tersebut seharunya 3 piring nasi tadi menjadi dibagi 4 orang berarti hanya kebagian ¾ piring saja setiap orangnya dan bukan tetap 1 piring yang berarti mereka menjadi kekurangan, kelaparan, akan tetapi dari hal apa yang saya perhatikan sangat jauh kenyataannya dari apa yang kita perkirakan tadi, dimana mereka tidak kekurang atau kelaparan tetapi selalu berkecukupn dan bahkan menjadi bekelimpahan.
Karena kejanggalan yang saya lihat dan saya amati dari kisah yang saya utarakan diatas timbul suatu pertanyaan dalam hati, kok bisa seperti itu ya ?? Apa rahasia dibalik hal itu semuanya ? Sebagai jawaban untuk kita semuanya itu bisa kita lihat dan kita baca dalam Alkitab yang tertulis pada Kitab Matius 14 : 15 – 16

14:15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."
14:16 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."

Murid-murid Yesus meminta kepada Nya agar menyuruh orang banyak itu pergi karena murid-muridNya berpikir dengan pikiran mereka sendiri karena sudah mulai malam dan pasti mereka sudah lapar dan butuh makanan padahal makanan tidak ada untuk disuguhkan. Mereka tidak berkonsultasi dulu dengan Tuhan, tidak bertanya dulu dengan Tuhan. Begitu juga dengan kita dalam menyingkapi sesuatu kita sering berpikir dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri, kita melihatnya dengan mata badani kita dan berkata bagaimana saya sanggup berbagi dengan orang lain sedangkan untuk diri saya sendiri saja masih kurang, bagaiman saya bisa menolong orang lain sedangkan diri saya saja masih butuh pertolongan.
Jadi yang menjadi jawaban dari pertanyaan tadi berdasarkan FirmanNya yang tertulis dalam Kitab Kisah Para Rasul 20 : 35
” Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Firman Tuhan ini juga akan lebih dikuatkan atau akan lebih memberikan penjelasan yang lebih lagi apabila kita melihat dari kisah serupa (Lima Roti dan Dua Ikan) yang ditulis oleh Yohanes dalam Kitab Yohanes 6:9
"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?
Coba kita bayangkan seandainya anak kecil itu langsung menyembunyikan roti dan ikan yang ada padanya dengan berpikir bahwa untuk dia sendiri semuanya itu mungkin masih tidak cukup (masih kurang), maka semuanya mujijat itu tidak akan terjadi dari apa yang dia (anak kecil) miliki. Namun karena anak kecil itu mau memberi mau membantu maka mujijat yang begitu besar nyata dalam hidupnya.

Firman Tuhan yang menjadi kunci utama dalam hidup kita tentang hal memberi adalah yang tertulis dalam Kitab Lukas 6:38
“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Rabu, 18 Maret 2009

Haruskah Kita Bekerja

Banyak orang yang bisa menyalahtafsirkan akan sesuatu hal yang didengarnya dan atau yang dilihatnya, seperti banyak orang yang mengatakan untuk apa kita capek-capek bekerja, toh apabila kita berdoa kepada Tuhan dengan tulus dan yakin maka semuanya yang kita minta dalam tua tersebut akan dikabulkan dan akan diberikan kepada kita. Hal demikianlah yang bisa mungkin terjadi kepada Orang Kristen yang membaca sepenggal-sepenggal dari ayat Firman Tuhan seperti yang tertulis dalam Kitab Mazmur 2 : 8 yang berbunya demikian;
Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.
Jadi dalam ayat ini jelas kita dapat lihat bahwa dengan berdoa saja kita bisa memiliki segala sesuatu, bukan hanya bangsa-bangsa yang akan diberikan oleh Tuhan kepada kita namun dari ujung yang satu sampai ujung lainnya dari bumi ini akan menjadi kepunyaan kita hanya dengan berdoa tanpa melakukan sesuatu hal yang lainnya.

Jadi sebaiknya kita dalam melihat dan atau membaca sesuatu hal itu kiranya jangan hanya dari satu sisi saja, namun kita harus menelaah lebih dalam dan lebih jauh lagi karena Firman Tuhan juga dalam Kitab Matius 10 : 16;
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular. dan tulus seperti merpati
Dalam ayat ini kita diminta cerdik yang berarti bijak dimana kita harus bisa berpikir lebih jernih, lebih teliti dan lebih telaten dan juga tidak asal menafsirkan akan sesuatu hal tanpa ada data pembanding atau data pendukung lainnya.

Karena apabila kita hanya meminta tanpa suatu usaha berarti kita bisa disamakan dengan orang yang malas padahal untuk orang malas jelas ada ayat Firman Tuhan yang sangat keras menegurnya, mengingatkannya agar orang malas itu berbuat sesuatu hal yang sangat berguna untuk masa depannya atau untuk kelangsungan hidupnya. Hal ini bisa kita lihat dan kita baca dalam Kitab Amsal 6 : 6-8;
6:6. Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:
6:7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya,
6:8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.
Pada ayatnya yang ke 6 kita diminta menjadi orang yang bijak seperti yang telah saya utarakan diatas bahwa kita sebagai Orang Percata seharunya harus bijak dimana kita bisa belajar dari sesuatu hal yang kita baca dan atau kita lihat juga yang kita dengar namun jangan langsung menerima apa adanya dari apa yang kita lihat, dengar atau yang kita baca itu, namun kiranya kita mempelajarinya lebih dalam lagi. Dalam ayat lanjutannya dikatakan orang bijak juga harus bisa melakukan sesuatu hal tanpa suatu komando atau pemimpin tidak ada yang mengatunya namun bisa melakukan sesuatu hal yang Sangay berguna dalam kelangsungan hidupnya.
Digambarkan dalam ayatnya yang ke 8 bahwa semut itu bekerja menyimpan/ menyediakan stock makanannya untuk musim selanjutnya. Dari ayat ini jelas kita lihat bahwa kita tidak disuruh duduk diam dan berdoa saja, namun kita diminta melakukan suatu usa atau pekerjaan agar kita mendapatkan sesuatu untuk kita makan.

Kedua ayat yang kita baca diatas seakan-akan mempunyai arti yang bertentangan, namun keduanya itu adalah satu-kesatuan sebagai arahan dalam kehidupan kita dimana kita harus melakukan sesuatu hal sembari kita bawakan hal yang kita lakukan tersebut dalam Doa Yang Benar kepada Tuhan, maka dengan demikianlah Tuhan akan memberikan hal itu kepada kita.